Hai, it's me here, Rara.
Balik lagi ke uneg-uneg gue yang sebenernya gue nggak tahu ini bermanfaat atau nggak. But, i want you guys to know kalo i used to stand on my comfort zone.
Emang keadaan lo sekarang gimana, Ra?
I'm not totally fine. Gue ngerasa kalau gue kehilangan diri gue yang dulu. Gue nggak seceria waktu itu, gue nggak sebacot waktu itu, gue nggak seheboh waktu itu. Kenapa? Le'me tell you.
I've grown up with an overweight size. Gue dari kecil emang tumbuh dengan ukuran yang lebih besar dari anak-anak lainnya. Obesitas. Tapi dari kecil gue nggak pernah malu atau ngerasa kalo emang gue unattractive, segala macem. Gue menerapkan prinsip "Mau temenan sini, kalo nggak mau ya bukan urusan gue".
Bukan cuma urusan size, frenzz. Gue waktu kecil layak banget untuk ikut acara TV. Acara Si Bolang. Seriusan dulu gue anaknya nggak bisa diem banget. Siang bolong ngambil sepeda terus kabur dari rumah untuk keliling menyapa masyarakat. Jadi efeknya apa? Gue item, dekil, jelek, nggak ada warna lagi selain item pokoknya cuma gigi gue doang yang putih.
Sebenernya nggak jarang nyokap-bokap gue marah-marah gara-gara gue kayak gitu. Tapi ya gimana... Ngebolang itu asik banget HIYA HIYA HIYA.
Nah semenjak kelas 4 SD gue sudah mulai malu tuh dimarah-marahi untuk nggak main panas-panasan lagi. Alhasil gue jadi anak rumahan, dan pada saat itu juga gue sudah mulai punya tablet dan ponsel android, dan gue juga sudah diizinin bokap untuk pegang laptop dia (pamer bat najis). Selain itu gue udah mulai bimbel nih. Jadi semenjak itu gue lumayan putih lah. Lumayan. Tapi karena gue nggak pernah keluar rumah dan kerjaan gue maen gadget+bimbel, badan gue diameternya makin lebar. Bayangin ya, gue umur 12 tahun (kelas 6SD) sudah punya berat badan 67kg dengan tinggi badan gue saat itu yang cuma 155cm. Jadi di kelas gue, gue masuk ke golongan anak yang paling tinggi-besar gitu deh. Tapi sebenernya gue dari lahir nggak pernah kurus sih, ya emang overweight mulu dari lahir.
Ngelewatin masa SD-SMP gue skip ke SMA aja ya. Di SMA gue lebih parah lagi, seriusan. Apalagi semenjak MPLS yang setiap hari dijemur kayak simulasi masuk neraka. Gue nggak pe-de banget gara-gara gue jadi lebih item. Item banget malah sudah kayak bayangan. Dan gue juga nggak kenal sama yang namanya skincare-skincarean. Demi apapun gue jadi cewek yang paling item di kelas gue.
Skip ke liburan kelas 12, gue mulai sadar. Banyak orang-orang yang sudah nge-warn gue untuk jaga badan. Gue lakuin. Pertama gue pakai skincare punya nyokap. Setiap gue ke kamar mandi (walaupun cuma buang air kecil) gue pasti cuci muka pake facial wash. Pokoknya gue pengen muka gue bagus. Titik. Terus gue nyoba-nyoba untuk diet. Woi susah beneran! Semuanya berhasil, walaupun nggak sesuai maksimal.
Tapi jujur, gue nggak menikmati segala prosesnya. Susah nurutin omongan orang. Nggak ada ujungnya. Gue nahan makan dan itu ngebuat mood gue berantakan. Biasa makan bakso super komplit, sekarang makan bakso urat biasa. Biasa makan sehari 4 kali, sekarang cuma 2 kali.
Gue sempet menjauh dari society karena gue ngerasa gue nggak layak deket sama semua orang. Gue ngerasa orang lain jauh lebih diprioritasin daripada gue, terutama dengan lawan jenis gue.
Mulai di lembaran baru, gue mencoba untuk nggak sekalipun mencoba untuk mengulang pemikiran gue. Gue mulai menerapkan sistem yang baru. "Kalo emang lu tulus temenan sama gue, lu pasti nggak akan pernah mandang kekurangan gue."Dan gue mencoba menjauh dengan orang-orang yang gue anggep toxic. Gue nggak peduli orang menanggapi gue kayak gimana, tapi ini diri gue, gue yang punya hak atas diri gue.
Nggak soal fisik aja, man. Soal pendidikan, soal sosialitas, dan bahkan percintaan gue aja semuanya amburadul.
Selain bimbang dengan fisik, gue juga bimbang dengan pendidikan gue. Di jenjang terakhir gue sekolah, banyak banget problema yang gue hadapi. Gue nggak ngerti gimana pemikiran orangtua gue yang 100% bertolak belakang dengan pemikiran gue. Belum lagi gue anaknya super insecure dengan omongan orang yang selalu ingin unggul. Tapi untungnya gue anak yang nggak bisa cuma diem nge"iya"in doang. Gue punya pikiran dan gue punya mulut, gue berhak speak up tentang apapun yang bertentangan dengan kemauan gue, toh topiknya juga tentang diri gue.
Terus solusi lo untuk menanggapinya gimana?
Well, gue mencoba untuk kembali self-love. Gue mencoba untuk menerima segala hal yang orang lain komentarin tentang gue, tapi dalam sisi positif. Dan gue juga ngerubah mindset gue tentang orang lain. Gue nggak mau komentar tentang orang lain karena gue juga nggak mau dikomen orang. Gue mencoba intropeksi diri gue, apakah emang gue ngerugiin orang lain atau nggak. Selagi gue nggak ngerugiin orang lain, ya keep it up aja. Ini hidup gue, gue berhak ngelakuin apapun, right? Gue mencoba untuk menghilangkan all those negativities dari otak gue. Gue mencoba berpikiran sehat tentang orang lain.
Pesan gue juga, please kalian jangan ngebuat orang lain down dalam segi apapun. Kita punya urusan masing-masing, so why don't we focus on our own bussiness dan nggak usah ngurusin urusan orang lain? Toh kita punya hidup masing-masing kan?
Satu kata kalian untuk orang lain itu sangat berpengaruh. Dan kita juga harus paham karakter orang lain. Ada orang yang bisa menerima candaan, tapi kalau yang nggak bisa? Omongan lo bisa ngaruh banget untuk ngerubah hidup dia.
Terima diri lo apa adanya. Mau ukuran badan lo gede, mau ukuran badan lo mini, ya itu semuanya anugerah. Kalau emang lo nggak nyaman dengan ukuran lo yang sekarang, ya silahkan aja berusaha ngeraih body goals lo. Tapi jangan sekali-kali lo mencoba merubah diri lo cuma karena omongan orang lain. Nggak akan ada ujungnya dan orang lain tetep aja mandang kekurangan lo.
Jangan mencoba banding-bandingkan diri lo dengan orang lain. Ya, sadar diri aja lo siapa. Lo ya diri lo sendiri. Gue yakin semua orang punya kesempurnaan dengan cara mereka masing-masing. Lo jangan maksain diri lo.
Itu aja sih tips yang nggak bermanfaat dari gue. Kapan-kapan gue update lagi ya. BUBUYY!!! <3
.social-profiles-widget{width:100%;height:auto;padding:10px 0}
The Journey of Mine
This blog is actually dedicated for my self satisfaction. I'd like to share my experiences and hope it could be useful to other people. Cheers!
Minggu, 12 Januari 2020
Jumat, 27 Desember 2019
Mengapa Harus Nikah Muda?
Hai, apa kabar semua? It's been 5 years not to post anything here. Gue juga nggak pernah yakin kalo ada orang yang stay di blog ini wkwk.
Jadi kali ini gue bakal bahas soal nikah muda yang menurut gue nggak layak untuk dibahas anak seusia gue yang mana gue masih underage.
Beberapa hari kemarin gue sempat ngeliat postingan mutual gue di facebook yang sedang pamer kebahagiaan di hari pernikahannya. Fyi, mutual gue itu usianya masih seumuran gue (17 tahun). Kaget? Sama, gue juga. Tapi ada beberapa uneg-uneg yang pengen banget gue sampaikan.
Gue yakin semua orang menganggap pernikahan itu sebuah ibadah dan gue yakin semua agama juga sudah menetapkan bahwa pernikahan itu adalah hal yang mulia dan juga bisa menghindari zinah. Masalah jodoh juga sudah diatur sama Yang Di Atas, yang mana kalo emang jodoh sudah di depan mata, what are you waiting for? Langsung nikah aja!
Nah problemanya di situ. Menurut pandangan gue, ya.... Boleh aja sih dibilang sotoy(sok tau). Tapi gini loh, pernikahan bukan sekedar ibadah, and also bukan sekedar menghindari zinah. Ada banyak issues yang bakal dihadapin saat pernikahan sudah terjadi.
Menurut sudut pandang gue juga, ada banyak orang-orang yang emang seharusnya belum tepat waktu menikah tapi sudah terucap sah. Tapi balik lagi, kalau memang di usia yang terbilang belum cukup matang tetapi sudah berani menikah, berarti sudah siap menerima segala problema pernikahan.
Bukan sekadar problema dua insan yang menjalani pernikahan, tapi sepasang suami-istri tentu akan berperan sebagai orang tua, betul? Nah di sini yang jadi issue utama sebuah keluarga. Orang-orang siap untuk menikah, tapi apakah siap untuk menjadi orangtua?
Peran menjadi orang tua itu sendiri bukan hanya sekedar melahirkan lalu selesai. Masa pertumbuhan anak dan segala sesuatu kebutuhan tentu harus dipikirkan sematang mungkin. Anak perlu edukasi dan juga big attention dari orang tua, apa kita semua sudah sanggup?
Di negara-negara maju seperti Belanda, Jerman, Jepang, dan negara lainnya, banyak pasangan suami-istri yang memang menunda untuk memiliki keturunan karena mereka belum siap untuk menghadapi segala problematiknya. Dari situ aja gue sudah punya pikiran bahwa insecurity issues untuk menikah itu banyak, bro. Bukan urusan upacara pernikahan, pesta resepsi, terus selesai.
Karena rumitnya problema dari pernikahan tersebut, ini merupakan salah satu penyebab terkadang ada banyak pertentangan dari sepasang suami-istri yang mungkin bisa menyebabkan selesainya suatu hubungan. Dan problema ini juga yang kadang selalu membuat gue kepikiran, "Apa suami-istri itu masih terhitung jodoh sampai masih bisa divorce?"
Soal usia menikah, menurut gue kembali ke pribadi masing-masing. Kalau memang siap menghadapi problema dari pernikahan tersebut dan sudah berpikir untuk mengedukasi anak, ya silahkan. Tapi kalau masih belum ada pikiran apa-apa tentang segala problema pernikahan, gue tidak merekomendasikan untuk nikah deh, kasian anakmu nanti, hehehe.
Itu deh yang bisa gue bagi di celotehan gue kali ini, gue lebih suka kalau ada yang comment untuk berukar pikiran pasal topik yang gue bahas ini. Happy long holiday guys, be happy! :)
Langganan:
Postingan (Atom)